Banyak sumber
mengatakan bahwa Guru terkadang menjadi penyebab ketidakdisiplinan para siswa
oleh karena kurangnya persiapan mereka untuk mengajar, pelatihan yang minim
atau tidak memadai dalam teknik mendisiplinkan siswa, dan sikap mereka terhadap
siswanya. Atikel ini semoga tidak di asumsikan bahwa semua faktor ketidak
disiplinan siswa diakibatkan oleh Sang Guru.
Mungkin anda pernah mendengar teman mengajar anda mengatakan
“Saya tidak suka siswa ini/itu!”. Statemen ini mungkin akan menghancurkan
karier pendidikan siswa jika tiap hari, seorang siswa berbuat indisipliner
dalam pandangan guru. Membenci siswa bukan menjadi solusi mereka akan bertindak
disiplin sehingga prestasi belajar mereka akan meningkat, tetapi membuat mereka
merasa terkucilkan dalam situasi pembelajaran ketika kita sedang mengajar.
Kita bisa saja mengelabui para pengawas atau orang tua siswa
dengan memperlihatkan sikap simpati ketika mereka berkunjung dan memantau kita,
tetapi siswa yang tersudutkan tidak bisa di kelabui. Perasan mereka tetaplah
perasaan yang tersudutkan, terkucilkan, terhina dalam pandangan kita sampai
ketika kita merubah persepsi tentang keberadaan mereka.
Michael Grinder mengatakan bahwa, guru memiliki kewajiban
untuk mengajarkan siswa mereka tentang Bahasa Inggris, Matematika, dll, tetapi
lebih utama adalah merasakan apa yang sedang terjadi pada diri mereka, apa yang
sedang bergejolak pada pikiran mereka dan membantu mereka memecahkan masalah
jika masalah yang mereka hadapi terkait dengan lingkungan sekolah mereka.
Metode mendisiplinkan siswa selain mengetahui materi
pengajaran yang akan anda ajarkan kepada siswa, juga kepedulian kita terhadap
mereka pada saat menyampaikan materi tersebut. Ketika anda sedang menyampaikan
materi, bisa kita selipkan berbagai teknik untuk merangsang perhatian mereka
terhadap pelajaran, misalnya ketika kita mengajarkan Bahasa Inggris, dan
mengungkapkan satu kosa kata yang memiliki kenangan tersendiri bagi kita,
ceritakan kenangan tersebut ketika kita menggunakan kosa kata tersebut. Atau
ketika seorang siswa betindak indisipliner dalam kelas pada saat kita sedang
mengajar, perhatiannya sedang menerawang keluar ruangan, kita ajukan pertanyaan
kepada dia tentang apa yang di lakukannya dengan pertanyaan membuat dia
kebingungan atau diam, misalnya “Andi, kira-kira apa yang terjadi diluar kelas
saat ini?”.
Metode mendisiplinkan siswa lainnya adalah bersikap jujur
kepada mereka. Sebelum memasuki ruangan mereka, bersiaplah masuk dengan topeng
pengetahuan yang kita miliki, bukan pengetahuan kepura-puraan. Maksudnya,
seorang guru pun memiliki keterbatasan pengetahuan yang jika melakukan
kesalahan, anggaplah itu memang satu kesalahan, bukan mencari jalan untuk
keluar dari kesalahan (apology) dengan harapan mereka tidak akan meremehkan
pengetahuan kita. Ketika memberi kesan
kepada mereka tentang andalah yang paling benar atau kita mengetahui banyak hal,
maka asumsi siswa dalam belajar adalah bagaimana supaya mereka menjadi pendengar
yang bijak tapi tidak berani memberikan komentar sebagai pembanding. Jika hal
ini terjadi, mereka merasa tertekan namun mereka sadar bahwa apa yang mereka
dengarkan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Bersikap jujur tentang
pengetahuan kita akan membei dampak baik siswa, sehingga mereka pun dalam
proses belajar mengajar tidak akan ragu untuk mengungkapkan pengetahuan mereka
meskipun itu salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar